About Me
Name: song
Home:
About Me:
See my complete profile
Previous Post
Archives
Guest Book

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Links
Powered by

Isnaini Dot Com

BLOGGER

 

 

 
  Sunday, June 10, 2007  
 
 
Karisma Lebih dari Sekadar Penampilan ?

Mengapa saat sejumlah orang masuk ke dalam sebuah ruangan, tidak seorang pun mengedipkan mata mereka? Orang-orang yang lain bisa masuk ke dalam ruangan yang sama, dan bum! Semua orang terpana.Karisma atau aura, merupakan kualitas yang mengubah aktor menjadi selebritis, membuat tenaga penjualan harian menjadi pemain bintang di dalam sebuah korporsi, dan memisahkan politisi penipu dari negarawan yang dikagumi. Karisma adalah kualitas yang bisa Anda bentuk perlahan-lahan, jika Anda percaya seyakin-yakinnya bahwa Anda berhak mendapatkan lebih, jika Anda percaya bahwa manusia adalah makhluk yang fantastis. Anda bisa menciptakan karisma, tetapi Anda tidak bisa memalsukannya. Ada sesuatu di dalam diri kita yang bisa mendeteksi apakah seorang asli atau gadungan. Jangan tanyakan saya apa itu, tetapi saya tahu kita semua memilikinya. Siapa pun yang memalsukan karisma tidak memahami kaitannya dengan harga diri dan dengan harmoni dengan diri Anda. Hal yang saya maksudkan adalah Anda bahagia dengan siapa diri Anda, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karisma tidak berhubungan dengan jenis kelamin atau ras, atau tinggi badan dan warna mata. Saya percaya karisma merupakan sumber daya brilian yang kita semua miliki, tetapi hanya sedikit orang yang tahu cara mengolah dan memanfaatkannya.Untuk menemukan karisma, Anda perlu melihat hidup sebagaimana mestinya-tidak ada film, tidak ada opera sabun, hanya kehidupan sehari-hari yang nyata. Perbedaan terbesar antar dunia Hollywood dengan dunia nyata adalah bahwa orang sukses dalam semua lapangan kehidupan terlihat seperti Anda dan saya. Mereka hanyalah orang-orang normal, tetapi mereka berhasil ‘masuk ke dalam’ dan membangun kekuatan karisma mereka, dan memancarkannya kepada dunia. Saat bercermin mereka tidak saja melihat refleksi jasmani mereka. Mereka tahu bahwa di dalam sana, mereka cantik, mereka penting.Ketika Anda masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang, apakah Anda merasa takut atau rapuh? Atau apakah Anda tahu Anda punya banyak untuk diberikan kepada orang-orang di sekeliling Anda? Di setiap seminar, saya masuk ke dalam ruangan penuh orang yang tidak saya kenal, astaga, auditorium yang penuh dengan orang! Saya biasanya merasa kecil hati karena kesadaran-diri saya membuat saya merasa ‘tidak cukup’. Apakah jas saya cukup rapi? Apakah saya terlalu gemuk?Hal yang mengubah persepsi saya adalah sebuah artikel yang saya baca di sebuah majalah, yang menyatakan sesuatu seperti ‘Selalu ingat: saat Anda berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan penuh orang, jangan pikirkan tentang diri Anda’. Pikiran Anda bisa menjadi musuh atau teman Anda. Ketika Anda memasuki ruangan penuh manusia yang tidak Anda kenal, fokuskan pikiran Anda pada apa yang bisa Anda lakukan untuk mereka. Yakinkan diri Anda bahwa ada banyak orang di dalam ruangan yang ingin mendengar dan belajar dari Anda. Bahwa Anda akan menjadi orang yang spesial di mata mereka.



Sumber :Buku Believe and Achieve ! ,” Menuntun Anda Mencapai kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih besar “Pengarang : Paul Hanna adalah salah seorang motivator terkemuka di Australia dengan daftar klien yang terdiri atas korporasi-korporasi terpandang di Australia, Toyota, Optus, Wstpac, Qantas, Aussie Home Loans, BMW, dan Colonnial adalah sejumlah korporasi terkemuka yang telah memanfaatkan jasa dari pembicara muda yang dinamis ini.Penerbit : Erlangga Hal. 185Buku-buku lainnya yang diterbitkan oleh Erlangga : You Can Do It, The Mini Motivator, dan The Money Motivator
posted by song @ 3:47 AM   0 comments
 
 
   
 
 
HOBI YANG MENGHASILKAN UANG


Dikutip dari Danareksa.com
Sudah bukan jamannya menggantungkan diri gaji dan perusahaan tempat bekerja, sebab masih tingginya risiko PHK yang menyebabkan Anda kehilangan pekerjaan. Jika Anda mempunyai hobi yang digilai, mengapa tidak mencoba mendapatkan penghasilan tambahan dari hobi tersebut. Daripada terus menerus dituding sebagai salah satu biang pemborosan, marilah kita mengusahakan hobi kita agar menjadi mesin uang.
Kegilaan orang akan hobi yang ditekuninya, dapat dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang yang hobi berburu barang-barang antik bisa menghabiskan banyak waktu, tenaga dan bahkan uang sampai ratusan juta rupiah yang bagi orang lain seperti sia-sia. Bandingkan dengan tingkah orang yang yang hobi dengan burung perkutut atau ikan Louhan ?
Mungkin terasa tidak masuk akal bagi orang lain. Hobi boleh dibilang sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan batiniah untuk melepaskan diri dari kejenuhan dan kelelahan karena rutinitas harian dalam mencari nafkah. Karena sifatnya itulah, yang berlaku dalam soal hobi adalah kesenangan yang tak terhingga. Ketika hobi diboyong ke dalam wilayah bisnis, meski perhitungan laba-rugi, kelayakan usaha, peluang dan lain sebagainya juga dijadikan pertimbangan tapi instinglah yang lebih dominan. Ungkapan yang sering terdengar, nggak masalah untung atau buntung yang penting hobi !
Bekerja Dengan Senang HatiTapi itulah sebabnya mengapa kegiatan usaha yang berawal dari hobi seringkali berhasil dengan baik. Dimana salah satu kunci untuk memulai usaha yang sukses adalah bekerja dengan senang hati, seolah kita sedang mengerjakan hobi sampai-sampai lupa waktu dan tidak kenal lelah. Yang pasti ada kesungguhan baik dalam memulai usaha hingga mengembangkannya dan melakukan sesuatu dengan landasan cinta, bukan keterpaksaan agar kita bekerja untuk hasil yang terbaik dan penuh keikhlasan
Tidak heran jika banyak orang memulai suatu bisnis adalah karena kegemaran atau hobi. Bayangan mendapatkan penghasilan besar dengan melakukan pekerjaan yang disukai memang menjadi keinginan banyak orang. Sebab biasanya orang memang melakukan hal yang terbaik untuk kegiatan yang disukainya, sehingga tidak heran jika hasilnya juga maksimal. Hobi yang dilakukan dengan tujuan awal melepaskan stress, kemudian malah menghasilkan uang tentunya menjadi bonus yang sangat menyenangkan.
Langkah Awal Mengubah Hobi Menjadi BisnisSatu hal yang berat dalam melakukan usaha ialah melakukan langkah pertama. Meski demikian, langkah pertama tetap saja melakukannya. Bukankah hal-hal besar itu berawal dari yang kecil, dan langkah seribu, tidak mungkin terjadi tanpa langkah pertama. Apa saja yang harus dilakukan agar hobi kita bisa menghasilkan uang, berikut ini adalah caranya :
Luangkan waktu lebih banyak untuk menekuni hobi Anda, dan hasilkan hasil karya dengan kualitas yang lebih baik dan kuantitas yang lebih banyak. “ Practise makes perfect “ dengan terus berlatih maka kita akan menghasilkan karya yang semakin baik. Hasil karya yang berkualitas tentunya meningkatkan nilai jualnya, apalagi jika banyak orang yang menekuni hobi yang sama, tentunya produk Anda harus mempunyai nilai lebih dibandingkan produk sejenis. Paling tidak hasil karya Anda mampu bersaing di pasaran. Masalahnya ketika hobi yang biasanya dilakukan diwaktu luang jika akhirnya menjadi rutinitas, maka si pehobi cenderung menjadi malas melakukannya.
Hal ini secara alamiah memang terjadi, namun itulah konsekuensi dari perubahan hobi menjadi bisnis. Supaya Anda tidak tersiksa dalam proses perubahan ini, maka lakukanlah secara perlahan atau bertahap, jangan memaksakan diri untuk meluangkan waktu jauh lebih banyak, tetapi sedikit lebih banyak saja dari waktu ke waktu. Misalnya jika bisanya Anda membuat hasil karya sebulan sekali, maka jangan memaksa diri untuk membuat hasil karya seminggu sekali. Tingkatkan produktifitas menjadi sebulan dua kali, kemudian jika sudah merasa nyaman dengan ritme kerja yang baru, jangan ragu-ragu untuk meningkatkan produktifitas setingkat lebih tinggi lagi.
Tambah terus pengetahuan Anda, bisa melalui kursus-kursus, seminar, atau pelatihan yang berhubungan dengan hobi Anda. Biasanya dalam kursus Anda akan mendapatkan semacam sertifikat yang nantinya bisa menaikkan prestise dan kepercayaan pelanggan, sehinggga meningkat daya jual hasil karya Anda.. Selain melalui kursus ada banyak cara yang lebih murah untuk menambah pengetahuan anda, dengan melalui buku, majalah, internet dan berbagai media informasi lainnya.
Belajar langsung dari orang–orang yang sudah ahli atau sudah sukses menjalankan hobi tersebut. Mendapatkan mentor atau bergaul dengan orang yang mempunyai hobi sama juga bisa menjadi cara yang terbaik bagaimana menghasilkan karya yang terbaik dan kompetitif dari segi kulitas juga harga. Sebab yang terpenting dari sebuah hobi yang jadi bisnis adalah apakah orang mau membeli hasil karya yang Anda hasilkan, dan berapa orang mau membayar untuk itu. Nah, dari mereka yang sudah berhasil di hobi yang jadi bisnis yang Anda minatilah Anda bisa mendapatkan informasi mengenai cara menjalankan bisnis tersebut dengan sukses. Lagipula dengan bergaul dengan mereka, hasil karya dan keterampilan anda selalu diukur kemajuanya oleh orang yang kompeten dibidangnya.
Selain itu berada dalam lingkungan yang memiliki minat yang sama juga akan meningkatkan motivasi Anda dalam berbisnis. Jika ada perkumpulan dalam hobi Anda, usahakan untuk bergabung dan aktif. Beberapa hobi mempunyai perkumpulan untuk mewadahi orang-orang yang menggemari hobi yang sama. Ada banyak manfaat yang bisa Anda dapat dengan mengikuti perkumpulan, antara lain : mendapatkan perkembangan terbaru serta informasi-informasi mengenai hobi Anda yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam mencari peluang, meningkatkan peluang mendapatkan calon pelanggan, memperoleh promosi gratis untuk usaha Anda, memperluas network.
Tawarkan hasil karya Anda dari satu toko ke toko lain, dari satu orang ke orang lain. Tentu saja, anda diharapkan tak mudah patah semangat jika produk yang anda tawarkan di tolak. dan juga, jangan malu. Dari pengalaman diketahui, orang-orang terdekat bisa menjadi konsumen awal. Cara ini, juga bisa membantu mengatasi kesulitan modal keuangan, karena mereka bisa diminta membayar dimuka, sebelum barang dibuat atau diantarkan
Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan kita masing-masing, sebab tidak semua orang beruntung memiliki hobi, atau memiliki hobi yang berpotensi menghasilkan uang. Banyak orang yang tertunda membuka usaha sebab masih bingung menentukan bidang usaha yang diminati. Tetapi bukan berarti jika tidak mempunyai hobi, kemudian tertutup kemungkinan membuka usaha, sebab banyak sumber ide bisnis lainnya yang bisa Anda lakukan.
Kuncinya adalah apapun yang Anda pilih, cintailah ! Dengan melakukan pekerjaan yang dicintai, Anda seperti mempunyai layaknya hobi. Sebaliknya banyak juga orang yang sudah memiliki hobi, namun belum berminat mengubahnya menjadi bisnis yang menghasilkan uang. Mudah-mudah tulisan kali ini menambah wawasan Anda terhadap peluang dan potensi bisnis dari hobi.
posted by song @ 3:47 AM   0 comments
 
 
   
 
 
KENAPA SUKAR HENDAK BERKOMUNIKASI DENGAN IBU BAPA

Yanti tidak seperti dulu. Perlakuannya kini berbeza. Sejak berkawan dengan Amir, Suhaimi, Rita dan Liza, dia tak seperti sebelumnya. Balik sahaja dari sekolah, dia melenting. Ada-ada saja yang tak kena. Dari layanannya terhadap Imran dan Areen, dua adiknya hinggalah kepada soal makan. Bila buka 'tudung saji', lauk yang dihidangkan mamanya tidak lagi menjadi juadah kegemaran. Cara berbual, tidak lagi lemah lembut. Dengan adik-adik, jadi macam 'bahan bahasnya'. Mamanya hairan, mengapa anak sulungnya tidak lagi mesra dengannya. Cara bercakap kini banyak berubah daripada dulu. "Mama ni jangan sibuk-sibuk tanyakan hal Yanti, Yanti dah dewasa, tahulah Yanti jaga diri,', jerit Yanti.
Keluhan ini sering berlaku pada anak-anak remaja yang dalam peringkat mengasingkan diri daripada kawalan emak bapa. Pada pendapat Yanti, dia kini boleh berdiri dengan sendiri. Yanti sudah mempunyai nilai sendiri, idea-idea mamanya sudah dianggap kuno. Mama Yanti, Maryati tidak berani lagi untuk 'mempengarubi'. "Saya bimbang Yanti akan tersinggung. Saya hanya 'introducing' sahaja. Kalau ditolak, saya tak boleh buat apa-apa. Saya harus sedar bahawa saya sudah tidak boleh menyatakan "ini yang patut Yanti buat...kenapa tak boleh buat begini, begitu. Saya tidak boleh menyusun aturkan jadual hariannya itu.
Komunikasl semakin kecil
Kamu perlu ingat menjadi seorang ibu memang serba salah, bekerja di luar rumah, dianggap 'meninggalkan' anak. Tapi, bila anak-anak meningkat dewasa, mereka pun satu persatu 'meninggalkan' ibunya dan tak seorang pun yang ambil peduli soal ini.
Waktu kamu mulai dewasa, di antara kamu memang mula ada 'keretakan'. Kamu beranggapan sudah betulbetul berdiri di atas kaki sendiri, betulbetul leading themselves. "Saya sering berasa tidak ada gunanya lagi menasihatkan Yanti," kata Maryati.
Keinginan ibu untuk 'membelai' kamu, seperti ketika kamu masih kocil kerap datang mengusik. Ya, semacam kerinduan seorang ibu yang telah kehilangan si kecilnya yang dahulu begitu meminta perhatian. Sekarang? Sekarang, memanggil mereka dengan intonasi "sayang" sahaja, si anak sudah mula berasa rimas.
Kadang-kadang, saya masih cuba menyamakan anak saya seperti dulu. Saya belai rambutnya. Wah! mereka benar-benar protes. "Mama ni selalu anggap Reen anak kecil," kata Reen. La! itukan tanda sayang? Ya...tapi Reen kan sudah besar mak," ujar Reen lembut. "Saya kaget, masih sbock . Ala pegang kepalapun sudah tak boleh. Nanti apa lagi yang tak boleh? kata ibu Reen bersuara lantang.
Bukan sahaja pendekatan secara fizikal dan emosi yang kian berkurangan. Tapi dari segi wawasan pun, perbezaan itu semakin terasa. "Saya sekarang lebih moden dibandingkan mama papa. Baru cakap sikit, mereka sudah potong...Mama...kuno sikit," mungkin bisikan seorang anak.
Bahkan dalam menghadapi permasalahannya pula, anak sering berasa yakin bahawa ia boleh memecahkan masalahnya sendiri. Seandainya ibu berasa 'marah' melihat perlakuan anaknya itu, apa boleh buat, dia harus mampu menelan kembali keinginannya untuk 'mengusap' anaknya itu. Paling-paling tidak, sekadar beri pendapat. Itu pun, belum tentu diterima dan belum tentu tidak dianggap sebagai ikut campur tangan.
"Kadang-kadang anak saya pergi tanpa izin saya. Bagi saya ini sudah merupakan problem tersendiri. Ya! macam ketakutan pada seorang ibu. Rasanya masalah ini akan hinggap pada semna ibu, tanpa terkocuali. Seperti juga kata pepatah; kasih ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang galah. Tapi bolehkah 'pertelingkahan' ini diperkecilkan.
Selama ini kita boleh menerima pertentangan mahupun keserasian. Sebagai suatu kewajaran, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Saya kira semua itu bergantung daripada kedua belah pihak untuk meredakan keadaan. Jika kedua pihak ini menyedari perkara itu-untuk saling mengurangi egonya, semua akan berjalan dengan baik, kita akan saling memahami.
Bagaimana menjalln Bagaimana menjalln komunikasl dengan anak-anak yang seolah-olah tidak terbuka?
Sekarang kamu tahu kan bahawa orang tua kamu sering bingung, gelisah dan tidak mengerti yang kamu juga perlu diperlakukan dengan baik. Dan ternyata mereka juga ingin membuka komunikasi yang semakin pudar dengan kamu yang semakin meningkat dewasa. Tapi mereka pun ragu-ragu (Ada yang kata, khuatir kamu tidak mengerti)
Maka jangan berfikir bahawa ayah ibu selalu melarang kemahuan kamu. Kadang-kadang mereka pun tidak pasti. Misalnya, kamu mengajukan permintaan tertentu, mereka sering ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Diizinkan, nanti membawa masalah. Tidak dibenarkan, nanti kamu akan bermasam muka. Bukan kerana mereka orang tua dalam erti usianya lebih tua daripada kamu, lalu mereka lebih pasti dalam segala hal, terutama dalam hal mendidik putera-puterinya. Kamu juga mengertikan, zaman berkembang terus sehingga para ayah dan ibu juga dituntut untuk menyesuaikan pendidikan di rumah dengan kemajuan di luar yang kadang kala mendesak.
Seperti juga kamu yang sering bingung menghadapi soal-soal matematik dan fizik di sekolah, mereka pun sering bingung menghadapi tingkah lakumu yang 'ajaib'. Sebenarnya, kuncinya cuma satu iaitu komunikasi. Sebagai remaja, kamu juga boleh aktif, tidak cuma menunggu orang tua untuk memulakan. Bertindaklah! ada yang tidak jelas, nyatakan dengan terus terang. Ada yang tidak kena, keluarkan. Ada yang menyedihkan, menangislah di depan ibu dan ayah. REMAJA yakin ibu akan menyediakan kertas tisu dan ayah akan menyediakan dadanya yang bidang.
Itu cuma lebih baik daripada kamu cuma duduk diam-diam sahaja, Jika semua kamu fikirkan dan selesaikan sendiri, paling teruk nanti kamu akan bertanyakan rakan yang belum tentu benar nasihatnya.
Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin tidak akan timbul jika sejak mula wujud komunikasi yang baik antara remaja dan orang tuanya. Anak lelaki yang sedikit ego mungkin pernah mempunyai masalah yang tidak dibicarakan secara terbuka, entah soal pemilihan sekolah atau soal hubungan kakaknya. Begitu pula si ibu yang mendapati ada gambar-gambar yang menjolok mata di bilik tidur anak bujangnya. Jika komunikasi di rumah tersebut berjalan, mungkin si ibu boleh menegur sambil lalu, "Eh...mengapa gambar-gambar begitu kamu lekatkan. Malulah ibu tengok.
Sayangnya hubungan remaja dan orang tua tidak ubah seperti orang berperang. Atau masing-masing punya fikiran begini di benaknya, 'dia pasti begini' Bertompoknya fikiran-fikiran hasil olahan otak masing-masing ini berlaku kerana tidak pernah dikeluarkan, makin lama makin banyak. Ibarat air di dalam cangkir yang diisi terus menerus tanpa pernah diminum, lama kelamaan pasti tumpah.
Sebaiknya, ciptakan situasi yang elok buat kedua-duanyanya. Elok buat kamu, baik juga buat orang tuamu. Misalnya jika ada apa-apa yang membimbangkan, rundingkan baik-baik. Walau bagaimana kesalnya hatimu, jaga kata-katamu agar segala yang keluar tetap berada dalam jalur kesopanan. Buat apa marah-marah sama orang tua sendiri? Akhirnya kamu juga kan yang punya perasaan tidak selesa.
Nah, kalau daripada pihakmu sudah ada kemahuan (dan tindakan) yang menunjukkan tanda-tanda keterbukaan, pasti dari pihak orang tua mudah untuk mengikutinya. Jadi, segala kegelisahan boleh diatasi.
posted by song @ 3:47 AM   0 comments
 
 
   
 
 
Mengelola iri hati

Rumput tetangga tampak lebih hijau.
Demikian pepatah yang sudah sering kita dengar. Sayangnya, walau kita semua telah mengerti betul arti pepatah itu, tetap saja godaan untuk iri senantiasa mengintai dari segala sisi.
Hidup ini memang penuh pembandingan. Apa saja bisa kita bandingkan, wajah kita ini, kepintaran kita, duit kita, juga berkilau tidaknya kendaraan kita. Wajar dalam hidup ini untuk membandingkan, karena tanpa itu kita tidak tahu dimana posisi pencapaian kita selama ini. Tentu saja sama dengan semua orang, terkadang saya juga iri hati.
Setelah direnungkan lebih dalam, ada tiga bentuk iri : iri positif, iri negatif, dan iri merusak (dengki).
Iri positif adalah perasaan iri karena orang lain telah mencapai sesuatu, yang menyebabkan kita merasa cemburu kenapa kita kok tidak berprestasi seperti itu? Ini jenis iri yang bisa menggerakkan orang untuk maju, ingin mencapai seperti apa yang diirikannya. Saya iri dengan kolega saya yang mencapai jenjang professor, saya iri dengan rekan saya yang bisnisnya terus berkembang, saya juga iri dengan mereka yang sudah ngaji di masjid sebelum adzan shubuh menggema (artinya mereka sudah shalat malam). Saya iri kepada semua itu, kenapa saya belum bisa seperti mereka? Kenapa saya masih seperti ini-ini saja?
Yang kedua adalah iri negatif, inilah kecemburuan karena orang lain memiliki sesuatu yang berakibat kita kehilangan rasa gembira dalam hati kita. Misalnya teman kita berbisnis dan sukses, dan kita tidak diajak. Kita sedih dan iri. Seringjuga kita iri melihat pasangan orang lain lebih cantik atau lebih tampan, rumahnya lebih besar, senang-senangnya lebih banyak, dan karirnya lebih cemerlang. Apa bedanya dengan iri positif? Bedanya, iri negatif ini bukannya menumbuhkan dorongan untuk mencapai hal yang sama, namun justru menghilangkan kegembiraan sehingga hati mengalami kekosongan. Yang muncul adalah perasaan bertanya-tanya, “Tuhan kenapa aku tidak kau beri yang seperti itu?” Kalau kita mengalami iri, lalu kita ingin mencapai prestasi seperti orang lain, itu berarti iri positif. Kalau kita iri, lalu kita menjadi kesal dan marah-marah kepada Tuhan, nah ini yang namanya iri negatif! Yang positif akan menumbuhkan dorongan untuk maju, yang negatif justru menghilangkan kegembiraan dan hanya menumbuhkan kekesalan.
Yang ketiga adalah iri merusak (dengki), inilah jenis iri negatif yang disertai dengan harapan dalam hati agar sesuatu yang membuat iri tersebut hancur. Misalnya iri melihat orang lain karirnya begitu cemerlang, lalu muncul dalam hati ini sebuah harapan agar orang tersebut terkena batunya dan berakibat karirnya anjlok kembali. Jenis dengki ini akan disertai kegembiraan yang luar biasa manakala orang lain yang diirikannya mengalami musibah dengan kehilangan nikmat yang membuat iri tersebut. Misalnya iri melihat teman kerja punya istri cantik, lalu ketika istri cantik itu mengalami sakit leukemia, eh si dengki ini menjadi terhibur, syukurin luh begitu kata hatinya. Jelas orang pendengki ini sangatlah jahat, karena harapannya tersebut bisa menjadi energi negatif yang terpancarkan kepada orang lain. Itulah sebabnya dalam kitab suci Al Qur’an surat Al Falaq terkandung doa berlindung dari kebencian orang yang dengki (hasad) seperti ini.
Jadi boleh tidak kita iri dengan orang lain yang punya pasangan cantik misalnya? Ya boleh! Pertanyaannya adalah apakah iri itu menimbulkan dorongan untuk memiliki pasangan cantik (dan karena itu Anda bersungguh-sungguh mencarinya), atau hanya menimbulkan kekesalan kepada Tuhan karena tak juga memberi Anda pasangan yang cantik, atau yang paling berbahaya adalah menjadi dengki dengan orang lain yang punya pasangan cantik (karena kita kebetulan naksir gadis yang sama!) sehingga muncul dalam hati ini agar nikmat orang tersebut hancur berantakan (semoga pisah lagi, demikian doa orang yang dengki). Contoh pasangan cantik ini diambil karena iri hati ini paling mudah muncul ketika membanding-bandingkan pasangan. Harta, tahta, dan wanita kabarnya adalah hal yang paling banyak diinginkan orang sehingga menjadi sumber paling utama dari munculnya rasa iri, positif maupun negatif.
Penawar iri
Jadi bagaimana kalau kita dihinggapi rasa iri? Sebuah jawaban yang membuat saya terkesan ada di buku karya ulama Al-Ghazali yang kalau tidak salah berjudul Rahasia Shalat. Diceritakan tentang seorang raja yang berkeliling di wilayahnya dan kemudian bertemu dengan seorang rakyatnya yang miskin papa. Alkisah, si raja yang baik hati itu kemudian memberikan rumah kepada orang tersebut. Tak lama kemudian datanglah orang lain yang juga miskin papa, kali ini sang raja memberinya seekor kuda putih yang sangat bagus.
Lalu orang pertama tersebut protes kepada raja, “Raja, kenapa kau beri orang itu kuda putih yang bagus?”
“Memangnya kenapa?” tanya raja keheranan.
“Raja,” kata orang pertama tadi,” bukankah aku yang punya rumah lebih pantas bila juga memiliki kuda putih itu? Bukankah lebih pantas bila kuda dipasangkan dengan rumah sehingga menjadi lengkap?” demikian jelas orang tersebut.
Apa yang Anda rasakan ketika mendengar argumen orang ini? Memalukan! Jelas sangat tidak pantas, seseorang yang hanya diberi rumah (sudah untung diberi rumah oleh raja, dan itu juga karena kemurahan hati sang raja bukan karena prestasi orang tersebut), eh masih pula minta kuda. Benar-benar tak tahu malu, diberi hati minta ampela. Memangnya dia punya prestasi apa sehingga sang raja ‘wajib’ memberi pula dia kuda? Memangnya apakah salah kalau raja memberikan kuda putihnya untuk orang lain? Kalaupun dia berprestasi, memangnya raja harus memberi kuda? Memangnya raja sudah janji demikian?
Itulah analogi yang pas sekali dengan kehidupan kita ini. Selama ini semua yang kita dapat dan kita miliki sering dianggap murni prestasi kita. Memangnya Tuhan tidak punya peran? Selama ini juga kita selalu merasa berhak atas suatu hasil sesuai dengan keinginan kita. Memangnya Tuhan menjanjikan secara jelas hal itu? Kalau kita pintar, memangnya Tuhan menjanjikan kita akan kaya? Kalau kita tampan, memangnya Tuhan berjanji memberi istri cantik? Bahkan kalau kita berdoa memangnya Tuhan janjikan akan dikabulkan selalu dalam bentuk yang kita minta? Tidak ada janji seperti itu. Yang ada adalah, bila kita berilmu maka Allah akan mengangkat derajat kita, dan itu bukan berarti berwujud kekayaan. Derajat yang tinggi (di mata Tuhan) bukan berwujud kekayaan, pangkat yang tinggi, atau ketenaran. Kalau menurut saya, derajat yang tinggi salah satunya adalah nama baik seseorang, yang karena keberadaannya itu orang lain di sekitarnya menjadi senang dan diam-diam bersyukur karena orang tersebut ada dan mendoakannya. Itulah janji yang Tuhan berikan, bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Janji Tuhan lainnya adalah kalau kita bertakwa, maka akan diberi jalan keluar dari kesulitan dan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Janji Tuhan juga bila kita meminta pasti dikabulkan, asalkan kita menjalankan perintah-Nya, namun tidak dijanjikan diberi dalam bentuk seperti kemauan kita. Tidak pernah Tuhan janjikan wujud-wujud fisik, namun yang dijanjikan adalah yang non-fisik seperti derajat di mata Tuhan dan pertolongan atas kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Dan janji Tuhan itu pasti ditepati.
Jadi kalau kita mengalami iri negatif (berupa munculnya protes kepada Tuhan kenapa kita tidak diberi nikmat seperti orang lain, atau bahkan dengki yaitu harapan agar orang lain kehilangan nikmat yang dimiliki) tentu ini disebabkan karena : kita merasa berhak atas nikmat itu! Perasaan ini bisa muncul dari kesombongan (merasa lebih baik daripada orang lain), serta menganggap dunia ini serba berkekurangan (sehingga kalau nikmat itu sudah jatuh ke orang lain, maka akan berkurang jatah nikmat untuk kita).
Ada tiga kiat sederhana untuk mengelola iri hati.
Kiat pertama, cukup dengan bertanya kepada diri sendiri, “Memangnya siapa aku ini, boleh merasa lebih tahu dari Tuhan?” Memangnya siapa aku ini yang bisa menganggap bahwa wajah tampan harus ketemu wajah cantik, otak pintar ketemu dengan pangkat tinggi, kerja keras harus ketemu dengan kekayaan? Memangnya siapa aku ini merasa punya hak menuntut hadiah dari ‘Sang Raja’ sesuka-suka hati?
Dulu sekali ada teman saya yang berwajah biasa-biasa saja, eh istrinya cantik. Hebohlah teman-teman yang lain (termasuk juga saya, haha). Lalu saya berpikir, emangnya siapa saya yang merasa pantas menilai si anu harus menikah dengan si anu. Si anu karena cantik mestinya memilih si anu yang tampan, biar pantas. Sejelek-jeleknya milih saya saja, jangan si itu. De el el. Memangnya siapa saya ini, yang bisa membuat keputusan bagi orang lain (ya si gadis cantik itu) dalam menentukan cintanya? Memangnya siapa saya ini, yang pantas menilai bahwa si anu itu karena tidak tampan maka tidak berhak istrinya cantik? De el el. Jadilah saya sadar diri, ini gangguan iri negatif, isi hasutan buruk dalam hati. Astaghfirullah. Kalau memang ingin, ya cari, usaha saja, nggak usah iri.
Kiat kedua, kita harus yakin bahwa nikmat Tuhan itu berkelimpahan. Dunia ini serba berkelimpahan. Kalaupun banyak orang lain sudah diberi nikmat, Tuhan masih punya banyak jatah stok buat kita ini. Tuhan Maha Kaya, tak pernah kekurangan. Jadi tak pelu bersikap negatif dengan milik orang lain, biar saja, toh masih banyak stok buat kita. Pertanyaannya adalah, harus menjadi seperti apa kita agar Tuhan memberi hadiah nikmat yang sama buat kita? Biarkan saja orang lain dengan apa yang dimilikinya, kalau juga ingin lebih baik kita fokus pada mengusahakan nikmat buat kita sendiri. Dunia ini berkelimpahan. Kalau rumput tetangga tampak lebih hijau, coba evaluasi jangan-jangan kita memang tidak merawat rumput kita dengan baik. Sirami dong. Kalau ternyata memang tanah kita tandus, ya dipupuk, kalau memang susah dipupuk, ya berhijrahlah (berpindahlah), siapa suruh Anda di situ? Jangan-jangan rumput kitapun sama hijaunya, tapi kita tidak sadar!
Pernah saya berpikir, kok saya ini milih kerja jadi guru. Kan enak kalau kerja di perusahaan besar. Seorang teman pernah berkomentar, “Orang sepintar kamu ini karirnya pasti bagus di perusahaan besar,” katanya memberi sugesti. Lah, jangan-jangan iya! Tapi, jangan-jangan tidak juga. Saya memiliki ‘kemewahan-kemewahan’ saya sendiri dengan kondisi yang sekarang, yang mungkin akan berbeda ketika bekerja di perusahaan besar itu. Tapi, jangan-jangan di perusahaan besar juga memang betul enak kondisinya (jadinya saya iri). Nah, kan sama-sama tidak tahu. Jadi, kalau memang tidak puas dengan kondisi sekarang (karena tanahnya tandus), dan tidak juga menemukan cara membuat lebih enak (dipupuk tetap tandus), ya pindah saja. Memangnya siapa suruh saya di sini? Ternyata jawabannya : saya yang memilih untuk di sini, jadi guru. Dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. Kalau tidak suka dengan konsekuensinya, ya silahkan pindah saja, dunia ini luas.
Kiat ketiga. Pilih-pilih apa yang membuat kita iri. Maksudnya, pilih saja sesuatu yang bisa kita pengaruhi kondisinya. Misalnya, iri terhadap prestasi orang lain. Prestasi bergantung pada usaha kita, jadi kalau kita iri terhadap prestasi orang lain kita bisa mengusahakan hal yang sama seperti orang lain itu. Yang salah misalnya, iri pada ketampanan Tom Cruise. Ketampanan itu sudah pemberian dari sono, sedikit sekali pengaruh dari usaha kita.
Secara tak sadar kita sering membandingkan, wah si anu mobilnya bagus, dia memang kerja di Telkomsel (misalnya). Kalau Anda juga di Telkomsel tentunya Anda layak membandingkan demikian. Kalau tidak di Telkomsel, ya jangan dibandingkan, kondisinya beda kok. Kalau Anda dosen, ya pantasnya membandingkan diri dengan dosen yang lain. Kalau Anda karyawan perusahaan besar, ya bolehlah membandingkan dengan karyawan yang lain. Tentu saja kita pilih pembandingan yang bisa kita pengaruhi, dengan tujuan untuk mendorong diri kita ini agar juga punya prestasi yang sama. Memilih untuk membandingkan kecantikan atau ketampanan pasangan termasuk jenis pembandingan yang keliru. Kan setiap orang dikaruniai fisik yang berbeda dan kondisi yang beda? Nah, ketampanan itu adalah sesuatu yang unik sehingga tak layak dibandingkan. Lebih tepat kalau kita membandingkan bahwa si anu itu merawat diri (berhias, tampil cerah), yang kemudian kita ikuti dengan prestasi yang sama (merawat diri, tampil cerah). Karena mampu kita pengaruhi, maka iri hati tersebut dapat kita ubah menjadi iri positif.
Jadi 3 kiat sederhana itu adalah : rendah hati terhadap pemberian Tuhan (jangan suka menilai, bertindaklah netral), yakin nikmat itu berlimpah (masih banyak nikmat buat kita, hindari dengki), dan benar memilih pembandingan yang layak (yaitu yang bisa kita pengaruhi).
Iri itu boleh kok. Iri hati positif itu boleh, sedangkan iri hati negatif itu yang dilarang. Jadi, kalau kita mengalami rasa iri, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa boleh jadi kita ini memang belum pantas atas nikmat itu. Yah, mungkin saja karena berbagai hal yang kita tidak tahu, dan Tuhan yang lebih tahu tentang itu. Selanjutnya, kita coba ubah semua bentuk iri negatif itu menjadi iri positif, yaitu dorongan untuk berprestasi maksimal yang mudah-mudahan membuat Tuhan berkenan lalu memberi kita hadiah yang sama. Iri positif itu dianjurkan loh, bukankah ada hadits, “Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” Nah, kalau iri terhadap prestasi amal orang lain, jelas ini iri yang sangat positif.
Jadi, selamat menjadi iri, iri yang positif!


Dikutip dari SEPIA
posted by song @ 3:47 AM   0 comments
 
 
   
 
 
Menjadi Egois untuk menjadi bahagia

Irv dan Maryann sudah menikah 10 tahun. Irv sangat mencintai Maryann, baginya keinginan terkuat adalah membuat Maryann bahagia, sebab bila Mary bahagia Irv juga merasa bahagia.

Dari pandangan orang luar, Irv adalah pasangan ideal. Dari hal memberi rumah, merencanakan liburan akhir pekan, hingga menonton film, Irv selalu memperhatikan opini Mary dan memastikan bahwa keinginan Mary terpenuhi. Terkadang karena kurang informasi, Irv menebak keinginan Mary. Irv selalu berusaha menyenangkan Maryann. Anehnya Mary justru merasa frustasi.

Irv dan Mary kemudian menghadiri workshop menjadi bahagia. Pada sesi menuliskan ‘daftar mimpi’(dream list), Irv dengan mudah dapat menulis daftar yang panjang. Setelah dibandingkan dengan daftar mimpi Maryann, mereka berdua terkejut, isinya nyaris sama. Mereka saling berpandangan dan menyadari sesuatu yang telah terjadi : semua daftar mimpi Irv adalah sesuatu yang disukai Maryann. Inilah masalahnya, Irv tidak tahu mana yang merupakan keinginan murninya, mana yang keinginan istrinya.

Ternyata hal ini bermula sejak masa kecil Irv. Dia meyakini bahwa tugas utama dia adalah menyenangkan ibunya. Karena itu Irv kecil menjadi sangat pandai merasakan keinginan ibunya, tapi tidak untuk keinginannya sendiri. Itulah sebabnya bila Maryann menanyakan keinginan Irv sendiri, Irv tak mampu menjawabnya.

Sejak menyadari hal itu Irv mulai menanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang benar-benar ia inginkan? Irv berusaha membuat daftar mimpi dia sendiri. Hal tersulit adalah menghilangkan ide orang lain. Dia terus menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa yang sungguh-sungguh saya inginkan? Keinginan saya. Hanya keinginan saya.”

Selama workshop beberapa hari, Irv memfokuskan perhatiannya untuk menyingkap apa yang benar-benar membuatnya senang dan bahagia. Akhirnya setelah dia membuat dream listnya dan membagikannya ke Maryann, Irv merasa menjadi lebih orisinil daripada sebelumnya. Irv merasa menjadi dirinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian penyelenggara workshop tersebut, Rick Foster, bertemu dengan Irv dan Maryann. Mengejutkan, ternyata Maryann menyukai pribadi Irv yang baru. Mary tidak lagi menemui pasangan yang selalu menurut kepadanya. Mary merasa senang mengenal Irv yang lebih asli.

Moril dari cerita di atas adalah kita perlu menjadi diri sendiri. Kita perlu untuk juga melayani diri sendiri. Hidup dengan senantiasa berfokus kepada orang lain adalah hidup yang tidak seimbang. Bukankah salah satu misi kita adalah memenuhi peran kita secara pribadi kepada diri sendiri? Rick Foster, penulis buku How We Choose to be Happy, menamakan hal ini adalah Centrality, suatu sikap berfokus kepada apa yang kita inginkan dan bukan melayani apa yang diinginkan orang lain.

Secara tidak sadar sering kita terlalu memperhatikan keinginan orang lain. Mungkin karena terlalu cinta kepada pasangan. Mungkin juga karena terlalu takut kepada atasan atau senior. Akibatnya kita menjadi peka kebutuhan orang lain namun tumpul terhadap kebutuhan diri sendiri. Untuk hidup seimbang, menjadi ‘egois’ ternyata juga penting. Siapa lagi yang harus bertanggungjawab memikirkan diri kita, kalau bukan kita sendiri?

Mengenal orang lain adalah bijaksana, mengenal diri sendiri adalah pencerahan.
Lao Tsu



Dikutip dari Sepia
posted by song @ 3:47 AM   0 comments